Posted in Fiction

Fiction: The Sweetest Escape

Image Credit: http://www.rozite.info

Dia adalah matahari yang kehangatannya selalu dicintai orang, dan aku adalah sang rembulan yang indah, yang selalu dipuja, yang sering dijadikan perumpamaan keindahan dalam puisi. Aku selalu memantulkan sinarnya. Tapi satu hal yang pasti, kami tak bisa bersatu. Dia seorang fotografer. Cukup terkenal dan karirnya sangat cemerlang. Tapi tetap saja orang tuaku tidak akan menyetujui hubungan kami, terutama karena nama besar ayah.

Kami- setidaknya aku- sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Dia akhirnya menyetujui tetapi dia meminta satu hari agar bisa bertemu denganku untuk yang terakhir kalinya. Dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah Artificial Intelligence di rumah seorang teman, dan dengan segala daya upaya akhirnya aku bisa lolos dari para pengawalku. Dan aku menemuinya.

Di tempat ini, dia memilih untuk mengadakan pesta farewell kami. Ini hutan. Atau sepertinya kawasan pinggiran hutan, karena dia masih bisa mengendarai mobilnya- membawaku yang tertidur pulas sepanjang perjalanan- masuk ke sini. Aku memandang ke sekeliling. Pepohonan besar seperti deretan payung-payung hijau yang tak terputus. Aku menoleh ke arah utara. Jauh di seberang, terpisahkan oleh jurang curam, berderet pohon-pohon pinus tinggi. Indah sekali. Kami benar-benar memiliki quality time saat itu. Kuturuti keinginnanya untuk menjadikanku modelnya. We talked a lot, we sang, we shared laughter.

Sejam kemudian. Kami duduk berdampingan, menghadap lukisan alam yang terbentang di depan kami. Aku bersandar di bahunya.

“Kalau aku boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak jatuh cinta padamu, anak tunggal seorang Wiatmaja Hardi.” Dia bergumam. Pandangannya lurus ke depan.

Aku memilih untuk tak menjawab. Aku juga tak tahu harus menjawab apa. Lagipula itu bukan pertanyaan kan? Aku hanya memandangi wajahnya. Dia sangat tampan. Tidak heran para model itu selalu mengaguminya.

Catra menoleh ke arahku, “Apa kamu benar-benar ingin meninggalkanku?”

Aku menunduk.

“Aku tidak ingin. Tapi aku harus.” Jawabku datar.

“Tapi kita…”

“Catra Niscala…” aku memotong kalimatnya. “Life is like binary concept, 1 or 0. There’s no in between. Aku tidak mau kita seperti ini terus. Aku tidak mau membuatmu terus terluka. Pengawal-pengawal menyebalkan itu dan semua orang akan terus berusaha menjauhkanmu dariku.” Aku menghela napas. “Aku harus memilih dan aku sudah memilih.”

“Memilih meninggalkanku?” Dia tersenyum pahit.

Aku mengangguk tanpa melihat matanya. Aku lalu membenamkan wajahku ke dadanya. Untuk beberapa lama kami membisu. Membiarkan detak jantung kami saling bersahutan.

Catra mengangkat wajahku. “Kamu sangat cantik. Words aren’t enough to describe your beauty.” Catra menatapku lekat, mengunci mataku. Aku tersenyum. Aku sudah terbiasa dibilang cantik, tapi setiap kali Catra yang mengucapkan, maka akan selalu ada kembang api di dadaku.

“Seperti namamu, Chervena Roza, Mawar Merah…”

Ya, Chervena Roza berarti mawar mewah, diambil dari Bahasa Bulgaria. Aku diberi nama itu karena ibuku yang berdarah Bulgaria- dari pihak nenek – sangat menyukai bunga mawar merah.

“Seperti mawar merah, kecantikanmu sempurna dan kamu adalah lambang keindahan cinta yang selalu akan dikagumi.”

“Rayuan macam apa itu? Typical Indonesian!” Aku merengut.

Tawanya berderai. Dia mengacak rambutku. Kembang api di dadaku semakin banyak. Aku menikmati memandangi wajahnya. Tuhan, bolehkah aku meminta waktuku bersamanya lebih lama? Hanya dia yang bisa memberikan rasa ini, rasa yang tidak punya parameter untuk mengukurnya dan algoritma untuk memecahkan kerumitannya.

Keheningan yang damai yang seharusnya kami miliki lebih lama terusik oleh bunyi derap langkah yang sepertinya berasal dari banyak orang. Walaupun masih lamat terdengar aku segera tersadar.

“Itu pasti mereka! Mereka menemukan kita!” Napasku memburu, dipenuhi ketakutan dan kecemasan. Kami menoleh ke arah suara itu berasal.

“Sial! Kenapa mereka cepat sekali. Aku belum memulai apapun!” umpat Catra.

“Apa maksudmu?” keningku berkerut.

“Ikut denganku!” Catra menarik lenganku, mengajakku masuk ke dalam mobilnya.

“Tidak Catra, kita tidak bisa lari lagi!” cegahku.

“Aku tidak ingin mereka mengambilmu!” seru Catra.

Catra menarik lenganku lagi, kasar.

“Catra!” Aku membentaknya, “Aku sudah bilang, aku memilih untuk meninggalkanmu!” Aku mencoba menahan air mataku.

Kali ini Catra terdiam. Bersamaan dengan itu para pasukan itu sudah berada di dekat kami. Dan kini juga muncul dari arah dalam hutan. Kami dikepung. Ayah mengirim anggota kepolisian, tentara, bin, dan tidak lupa, para pengawalku yang memuakkan itu.

“Jangan bergerak!” Mereka mengarahkan senapan mereka ke arah Catra.

 “Aku mohon turunkan senjata kalian!” bentakku.

Beberapa saat saling pandang, akhirnya sang komandan memerintahkan anggotanya untuk menurunkan senjata mereka.

“Jangan sakiti dia. Aku akan meninggalkannya…” Air mataku menetes.

“Beri kami waktu sepuluh menit.” Ucapku pelan.

Aku membalikkan badan, menghadap Catra. Aku menjatuhkan kepalaku di bahunya. Catra membelai rambutku.

“Maaf…” Aku tak dapat menahan air mataku lagi. Bahuku berguncang, aku membenamkan kepalaku dalam pelukannya. Catra memelukku erat. Beberapa menit, dia semakin mengeratkan pelukannya, sebelum akhirnya kurasa pelukannya menyesakkan, membuatku susah bernapas. Dan aku merasa nyeri luar biasa, entah benda apa yang menyentuh rusuk kiriku, aku mendengar gemericik dari sana, bau darah menyeruak, dan napasku tersengal.

“Life is like binary concept, 1 or 0. Be mine or die. And you`ve chosen the second…” Catra mendesis di telingaku.

Aku tak sanggup menjawabnya, aku tak mampu berpikir lagi, napasku tercekat. Bersamaan dengan itu kudengar riuh suara di sekelilingku, dan suara tembakan. Aku tak tahu, otakku tak mampu memproses apapun lagi.

Seorang fotografer muda terkenal berinisial CN menunggu waktu untuk menjalani eksekusi mati setelah kasus penculikan dan pembunuhan berencana terhadap putri tunggal Presiden Wiatmaja Hardi, Almh. Chervena Roza Hardi, dan juga kejahatannya sebagai salah satu pengedar narkotika yang berhasil terungkap oleh pihak kepolisian.

Aku mematikan smartphone-ku dan mencabut baterainya, setelah membaca berita di salah satu situs surat kabar online. Aku tersenyum perih. Maaf, Sayang, aku tidak bisa menemanimu di hari-hari terakhirmu, tapi rasa cintaku akan tetap sama. Aku membenarkan letak beanie yang kupakai. Pesawatku akan segera berangkat.

In Response to Kampus Fiksi‘s Challenge.

Tema: Bunga & Eksekusi Mati

Syarat: Analogi & Metafora

Advertisements

10 thoughts on “Fiction: The Sweetest Escape

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s