Posted in Thoughts

Sang Fajar

Pagi itu, saat weekend setelah shalat subuh entah kenapa saya tidak bisa tidur lagi. Saya lalu memutuskan untuk ke rooftop dan membawa ponsel saya. Saya mengambil beberapa foto sekeliling rumah. Sun rises, the beauty of early morning never fails to amaze me. I took a deep breath. Udara pagi yang masih bersih, yang masih belum terlalu tercemari polusi, dan keheningan yang belum tercemari oleh kebisingan kota. Some thoughts crossed my mind…
image

Fajar dan Senja
Foto-foto yang saya ambil pagi itu mengingatkan saya akan foto-foto senja yang juga menjadi objek foto favourite saya. Menurut saya, pemandangan fajar menjelang matahari terbit memiliki kesamaan dengan pemandangan senja saat matahari tenggelam. Cahaya keemasan sang mentari yang menghiasi bias gelap langit. Dua fenomena yang dilukis oleh-Nya sebagai penanda waktu.
image

Saya tak ingin berfilosofi, tapi fajar dan senja mengingatkan saya akan usia manusia. Fajar mungkin mewakili usia manusia pada masa kanak-kanak, dan senja- seperti istilah “usia senja” yang sering kita dengar- mewakili manusia pada saat lanjut usia. Dua fase kehidupan yang tidak semua orang melewati keduanya. Karena banyak orang yang telah menghadap-Nya sebelum mencapai “senja”.

Jika berbicara usia, maka saya masih memiliki waktu yang panjang untuk saya jalani untuk meraih semua mimpi saya. Tapi jika berbicara tentang ajal? Maka tak ada yang mampu menjawab kecuali Sang Pencipta. Tak ada yang tahu pada usia berapa dan kapan seseorang akan kembali pada-Nya. Bahkan, kita tak tahu apakah kita akan sampai pada ramadhan yang hanya dalam hitungan jam. Semua adalah rahasia-Nya.

Rasa Syukur
Saat itu saya juga berpikir bahwa saya dapat menyaksikan keindahan alam karena saya memiliki mata. Dan bahkan bukan hanya mata, tetapi betapa beruntungnya saya karena saya terlahir dengan fisik yang sempurna. Rasa syukur yang tak ternilai dengan apa yang saya miliki ketika saya melihat mereka yang terlahir dengan keterbatasan fisik ataupun mereka yang memiliki fisik lengkap namun hidupnya kurang beruntung.
image

Namun terkadang orang-orang yang kurang beruntung itu yang malah menyadarkan kita untuk lebih bersyukur dalam hidup. Seberapa sering kita mengeluh dalam hidup? Saat jalanan macet rasanya suntuk gak jelas, padahal di dalam mobil gak kepanasan. A little girl who sells newspaper at the busy traffic crossroads says hi. Mengeluh saat gadget error, mengeluh saat mati lampu, mengeluhkan hal-hal kecil, sampai merasa malas melakukan aktifitas. A homeless boy who sleeps in the cold night and hasn’t eaten anything for days says hi. Dengan lebih membuka mata dan hati, semoga kita bisa menjadi orang yang lebih bersyukur.

Semangat Pagi
Pagi hari sering kita simbolkan sebagai semangat dalam memulai sesuatu. Banyak hal-hal yang kita lebih semangat melakukannya di pagi hari. Dan ucapan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa pagi dapat menjadi penentu bagaimana kita menjalani hidup kita pada hari itu. Pagi yang dimulai dengan rasa syukur dan pikiran positif, Insya Allah akan memberikan kita semangat untuk menjalani hari kita.
image

Bagi saya, tulisan ini bukan hanya sebagai postingan menyambut bulan suci Ramadhan, tetapi lebih sebagai muhasabah untuk diri saya sendiri. Saya yang tanpa saya sadari terkadang suka mengeluh, mudah marah, jenuh, dan suka bad mood gak jelas. Belum lagi sifat malas dan suka menunda-nunda sesuatu. Saya ingin berubah menjadi seseorang yang lebih baik, tetapi entah kenapa rasanya untuk berubah itu sangat sulit. Tetapi lagi, semuanya tergantung niat kan. Insya Allah dimudahkan.
image

Dan lewat tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Saya ingin meminta maaf jika postingan saya, comment, atau apapun ada yang menyinggung perasaan. Semoga ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini diterima oleh Allah SWT. Dan semoga bulan ramadhan kali ini dapat kita jadikan pelajaran, semoga kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya di bulan ramadhan, tapi juga setelahnya dan berkelanjutan. Aamiin.

Marhaban ya Ramadhan.

Wallahua’lambishawab.

Advertisements

29 thoughts on “Sang Fajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s