Posted in Fiction

Fiction: Camera

image

Sayang, tak usah kau hiraukan apa yang mereka katakan. Bagiku kau nyata, kau abadi. Aku bisa menatap matamu, menikmati senyum dan tawamu, menyentuh kulitmu, menggenggam tanganmu, dan memelukmu. Kau nyata bagiku, bahkan lebih nyata daripada keberadaanku yang mungkin akan lenyap jika kau tak lagi menjelma.

Aku menatap kamera di tanganku. Aku tersenyum. Ini kameramu. Kamera kesayanganmu yang kau berikan pada hari itu. Hari saat kau pergi dan orang-orang tak percaya saat kemudian kubilang kau telah kembali.

Aku senang kau memberikan kamera ini, Sayang. Kau tahu aku tak pernah ingin jauh dari kameramu ini. Karena hanya dengan kamera ini aku bisa bertemu denganmu. Saat aku kesepian sendirian di bangku taman, aku akan memotret dan kau muncul setelah kilatan kamera dan kau akan mengajakku berdansa. Saat aku kehilangan selera makan, aku akan memotret, lalu kau muncul dan menyuapiku. Ya, kapanpun aku merindukanmu aku hanya tinggal memotret dan kau akan muncul. Seperti malam ini, aku tidak bisa tidur. Aku memotret dinding kamar, dan kau muncul, Sayang. Kau menyenandungkan lullaby untukku dan membelai rambutku hingga aku tertidur.
***

“Ainsley… Ainsley… Turunlah! Ayo sarapan.” Pagi itu kudengar suara ibu memanggilku dari lantai bawah. Kemudian kudengar ia bercengkerama dengan ayah.

Aku menunggu. Sampai tak kudengar suara mereka lagi aku turun dengan membawa kamera. Kulihat sepotong bridie dan secangkir teh hangat telah tersaji di meja makan, ibu pasti telah menyiapkannya untukku. Aku melewatkannya, sama sekali tidak berselera makan, lalu aku keluar menuju taman di samping rumah. Aku terus berjalan ke arah danau.

Suasana di sekitar danau sangat tenang. Kau tahu aku selalu menyukai tempat ini kan, Sayang? Kau pun sangat menyukainya. Ah, aku merindukanmu. Aku memotret ke arah danau, dan kau pun muncul. Kau tersenyum. Aku menyentuh tanganmu, kita bergenggaman tangan, dan kau memelukku. Kau begitu nyata, Sayang. Bagaimana bisa mereka menertawaiku?

Aku hanya ingin membunuh detik yang berjalan saat aku bersamamu. Suara air danau dan gesekan dedaunan melantunkan melodi yang hanya kita saja yang bisa mendengarkannya. Aku masih berada di pelukanmu, merasakan debar jantungmu, saat tiba-tiba kurasakan seseorang menyentak tanganku.

“Ainsley! Apa yang sedang kau lakukan?” Ibu dan ayah kini sudah berada di dekatku. Dan kau sudah tak tampak.
“Laird, kau di mana?” Aku memutar pandanganku ke sekeliling mencarimu.
“Ainsley sayang, sadarlah. Laird sudah meninggal.” Ibu melihatku iba. Aku benci tatapan itu.
“Tidak, Ibu! Dia belum meninggal!’ Sergahku.
“Ainsley, tunanganmu itu mengalami kecelakaan saat pendakiannya ke Ben Nevis. Kau ingat itu kan, Sayang?” Ayah mencoba meyakinkan aku.
“Aku ingat, Ayah. Tapi dia sudah kembali.”
“Tidak, Ainsley. Kau hanya berhalusinasi.” Sahut ibu.
“Aku tidak berhalusinasi ibu!” Air mataku mulai jatuh.
“Sudahlah, Ainsley. Kau harus melupakannya. Kau juga harus melupakan kamera ini, kamera ini membuatmu terus berhalusinasi.” Ayah merampas kamera dari tanganku.
“Tidak, Ayah! Kembalikan padaku!”
Ayah tidak menghiraukan aku, dia lalu membuang kameraku ke danau.
“Ayah!!!” Jeritku.”Kenapa kau lakukan itu?!” Aku terisak.
“Sudahlah, Sayang. Jangan seperti ini terus, kau harus memulai hidup baru.” Ibu memelukku. Tapi aku melepaskan pelukannya dengan kasar.
“Ayo kita pulang, Ainsley.” Ibu menarik lenganku.
“Tidak, aku tidak mau!” Aku meronta melepaskan tanganku.

Ibu masih ingin memaksaku, tapi kemudian ayah meminta ibu untuk membiarkan aku di sini. Mungkin agar aku tidak semakin ganas melawan mereka.

Sepeninggal mereka, tangisanku semakin menderas, aku terisak sejadi-jadinya. Aku terduduk di atas rerumputan. Kedua lenganku memeluk lutut. Aku merasakan hangatnya air mataku yang terus mengalir.

“Sayang, aku menemukan kameranya.” Sebuah suara menghentikan tangisanku. Itu suaramu.
Aku menengadah. Benar, itu kau.
“Itu kau kan, Sayang? Laird?” Aku mencoba meyakinkan penglihatanku.
Kau hanya tersenyum, dan berjalan ke arahku. Kau lalu meraih tanganku. Dan aku kembali terisak menjatuhkan kepalaku ke dadamu. Kau memelukku erat. Aku merasakan kehangatan tubuhmu walaupun kau basah kuyup. Kau pasti habis mengambil kamera itu dari danau kan, Sayang? Aku hanya tersenyum geli.

Lihatlah, kau begitu nyata. Aku ingin memanggil ayah dan ibu. Agar mereka melihatmu, dan yakin bahwa kau benar-benar ada. Tapi sudahlah, mereka semua tidak akan pernah mau mengakui keberadaanmu. Dan itu tidak penting bagiku. Yang terpenting bagiku adalah kau selalu ada di sisiku.

Bagiku kau nyata. Kau abadi.
***

Tulisan ini diikutsertakan dalam #NulisBarengAlumni @KampusFiksi dengan tema “Kamera”.

My other fictions:
https://ichasyahfa.wordpress.com/2015/04/30/fiction-perfection/
https://ichasyahfa.wordpress.com/2015/02/22/fiction-the-sweetest-escape/

Advertisements

12 thoughts on “Fiction: Camera

      1. Menurutku kalo ide kan bs dpt dari mana aja sebenernya. Yg susah itu nuangin ide ke sebuah tulisan yg baik, perlu byk belajar dari para penulis. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s