Posted in Fiction

Surat Untuk Ayah

image


Aku masih berumur empat tahun saat ayah pergi untuk selamanya, meninggalkan aku dan bunda. Saat itu aku menangis, tapi aku menangis karena kukira ayah sakit, dan aku merasa marah karena ayah hanya diam saja saat kuajak bicara, tidak menanggapi saat kuajak bermain. Lalu kulihat banyak orang berdatangan, keluargaku, tetangga-tetanggaku, dan entah siapa lagi. Aku melihat bunda menangis, begitupun semua orang yang datang. Ayah dibaringkan di tengah ruangan, dan orang-orang membaca surat Yasin. Bunda kemudian mengatakan padaku bahwa ayah telah meninggal.

“Ayah sudah meninggal, Nak. Ayah sudah dipanggil oleh Allah.” ucap bunda terisak sambil membelai rambutku.

Aku hanya diam saja. Aku belum sepenuhnya mengerti. Aku tahu bahwa seseorang yang meninggal itu adalah orang yang sudah pergi meninggalkan hidup kita. Tetapi aku belum paham benar bentuk kepergian itu. Ketika jasad ayah dimasukkan ke liang lahat dan orang-orang menimbunnya dengan tanah, aku menangis sejadi-jadinya. Dan saat itu kulihat bunda tak sadarkan diri.

Sepeninggal ayah, bunda jatuh sakit. Tetapi kemudian bunda berusaha tegar demi aku. Ia mencoba menjalani hidupnya kembali walaupun terasa berat. Mencoba menjalani peran barunya sebagai single-parent.

“Bunda, apa kita bisa bertemu dengan ayah lagi?” Tanyaku suatu hari.

“Bisa, Nak. Makanya Khanza rajin shalat, mengaji dan belajar ya, Nak. Berdoa buat ayah. Insya Allah, nanti kita dipertemukan dengan ayah lagi di surga.” Bunda dengan sabar menjelaskan padaku.

Tetapi hari-hari berikutnya aku semakin merindukan ayah. Hari demi hari bunda dengan sabar membujukku, menyemangatiku untuk terus rajin shalat, mengaji, dan belajar. Saat itu aku sudah akan memasuki Sekolah Dasar, aku sudah lancar membaca dan menulis.

Aku menangis sesenggukan saat ulang tahunku yang kelima. Biasanya, ayah selalu menyiapkan kue ulang tahun kesukaanku, membelikan boneka cantik dan menyanyi untukku. Tapi di hari itu, ayah tidak ada. Kue ulang tahun sudah disiapkan bunda. Pun dengan pesta bertemakan Snow White yang semarak yang dihadiri oleh sanak saudara dan teman-temanku yang membawa banyak kado. Tapi, aku tetap tidak bisa tersenyum, karena aku sangat merindukan ayah. Bunda, yang seperti malaikat, selalu membujukku dengan sabar, tak pernah marah padaku.

Setelah semua tamu pulang, aku memeluk bunda.

“Bunda, Khanza sudah shalat, mengaji, dan belajar. Tapi Khanza sangat rindu ayah. Khanza ingin bertemu ayah.” Aku menangis.

Bunda menghapus air mataku dan menatapku tersenyum.
“Ini kan ulang tahun Khanza, Khanza tulis surat buat ayah ya.” Ucap bunda.

“Surat?” Keningku berkerut.

“Iya. Tulis semua yang ingin Khanza bilang ke ayah. Khanza tulis kalau Khanza merindukan ayah, ingin bermain bersama ayah lagi, dan berjanjilah pada ayah bahwa Khanza akan selalu jadi anak yang baik, bahwa Khanza akan mencapai semua cita-cita Khanza. Khanza tulis suratnya di setiap ulang tahun Khanza.” Jelas Bunda sambil membelai rambutku. Aku melihat matanya berkaca-kaca.

“Tapi ingat ya, janji-janji yang Khanza tulis di surat harus Khanza tepati.” Bunda menjawil hidungku.

“Tapi, Bunda, bagaimana ayah bisa membacanya?” Tanyaku penasaran.

“Allah yang akan menyampaikannya, Sayang.” Bunda tersenyum. Mataku berbinar, lalu memeluk bunda. Aku sangat menyayanginya.

Malamnya aku menulis surat. Aku menyobek selembar kertas dari salah satu buku tulisku yang berwarna-warni bergambar Snow White, karakter kartun kesukaanku. Aku menulis semua kerinduanku pada ayah. Bercerita tentang bunda hingga tentang teman-temanku di sekolah. Dan tak lupa, seperti yang bunda katakan, aku menulis janji-janjiku untuk setahun ke depan. Aku berjanji aku akan selalu rajin shalat dan mengaji. Akan selalu tekun belajar agar nilaiku selalu baik. Dan aku akan menuruti nasehat bunda, dan tidak melawan perkataanya.

Aku kemudian memasukkan suratku ke dalam amplop kecil yang dibelikan bunda. Dan aku memasukkan surat itu ke dalam sebuah kotak bekas tempat perhiasan bunda yang bunda berikan padaku, lalu kusimpan ke dalam laci meja belajarku. Malamnya aku tidur dengan nyenyak, dan aku bermimpi bertemu dengan ayah. Ayah, bunda, dan aku bermain bersama di taman bunga yang sangat indah.

Sejak saat itu, setiap tahun tepat di hari ulang tahunku, aku selalu menulis surat untuk ayah. Tentang kerinduanku, bercerita tentang pengalaman-pengalamanku, hari-hari yang kulewati bersama bunda ataupun teman-temanku. Juga tentang janji-janji dan rencana-rencanaku di tahun lalu, yang mana yang yang berjalan baik, yang mana yang masih harus kuperbaiki. Dan tidak lupa, seperti biasa, aku menuliskan janji-janji dan rencana-rencanaku untuk tahun berikutnya.

Ya. Aku tahu bahwa surat itu tidak akan mungkin dibaca ayah. Dan seperti yang Bunda bilang, bahwa Allah yang akan menyampaikannya, aku tidak terlalu paham akan hal itu. Tapi satu hal yang pasti, aku dapat mengobati kerinduanku kepada ayah dengan menulis surat-surat itu.

Dan saat ini aku sudah duduk di kelas 6, aku tidak merasa perlu menulis surat-surat itu lagi. Aku pikir aku sudah cukup besar untuk mengerti bahwa tentang surat itu hanya cara bunda agar aku tidak merasa sedih akan kepergian ayah saat aku masih kecil. Tapi sekarang aku sudah besar. Aku masih sedih jika mengingat kepergian ayah, dan akan selalu merindukannya, tetapi aku sudah tahu bagaimana caraku untuk mengatasi kesedihanku tanpa surat-surat itu.

“Bunda, Khanza tidak akan menulis surat untuk ayah lagi.” Ujarku saat aku dan bunda duduk menghadap meja makan, ingin menyantap makan siang. Aku melihat kalender. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke sepuluh.

“Kenapa, Nak?” Tanya bunda.

“Bunda, ayah kan tidak mungkin membacanya.”

Bunda tersenyum. “Iya, Nak. Memang ayah tidak bisa membacanya.”

“Lalu apa?” sergahku cepat. “Bunda mau bilang kalau Allah yang akan menyampaikannya? Bunda, Khanza sudah besar. Khanza tahu, saat itu Bunda cuma berbohong kan agar Khanza tidak sedih.”

Bunda menghela napas, “Bunda tidak bohong, Sayang.”

Bunda lalu tersenyum.
“Saat itu Bunda memang menyuruh Khanza menulis surat agar Khanza tidak sedih.” Lanjut bunda. Aku hanya diam saja mendengarkan.

“Tapi lebih dari itu, Bunda ingin kamu menulis janji-janji kamu di surat itu agar kamu selalu termotivasi untuk selalu berbuat baik dan menjadi seperti apa yang kamu janjikan di surat itu. Nah, karena kamu berjanji akan selalu menjaga shalat, rajin mengaji dan belajar serta selalu berbuat baik, tentu kamu akan menepatinya kan, Nak? Doa kamu akan sampai kepada ayah karena doa anak yang saleh/saleha akan sampai kepada orang yang meninggal, begitu janji Allah, Nak. Itu yang Bunda maksud bahwa Allah yang akan menyampaikannya.” Bunda tersenyum lagi.

Aku tertegun, mencerna kata-kata bunda.

“Dan Bunda senang kamu selalu menepati janji-janji kamu persis seperti apa yang kamu tuliskan dalam surat-surat kamu.”

“Darimana Bunda tahu? Bunda baca surat-surat Khanza?” selama hampir enam tahun setelah kepergian ayah aku benar-benar tidak pernah menanyakan apakah bunda pernah membaca suratku atau tidak. Aku selalu menyimpan kotak yang berisi surat-suratku itu dengan baik walaupun meja belajarku telah diganti dengan yang baru.

“Iya, Sayang. Setiap tahun, bunda selalu membaca surat-surat yang kamu tulis, setelah kamu tidur. Maaf ya Nak, Bunda tidak bilang. Soalnya Bunda takut kamu malu, kamu kan banyak memuji Bunda di surat kamu.” Bunda tertawa, “Terus, kamu juga lebih banyak bercerita tentang si cowok pintar di sekolah kamu yang kamu kagumi itu di surat untuk ayah daripada sama Bunda, kan?” Bunda menggodaku.

“Ih, Bunda…” Aku kemudian memeluk bunda manja. Aku merasa bersalah tadi sempat berbicara agak keras pada bunda. “Maaf ya Bunda, tadi Khanza marah sama Bunda,” ujarku.

Bunda mengangguk tersenyum lalu membelai rambutku. “Sekarang terserah Khanza mau nulis surat lagi atau tidak di setiap ulang tahun. Bunda yakin, tanpa surat itu pun, insya Allah, Khanza akan selalu jadi anak yang baik.”

Ucapan bunda membuatku terharu dan tanpa sadar menitikkan air mata. Aku kemudian mencium kening dan pipi Bunda. Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku seorang ibu yang hebat seperti dia.

Aku melirik jam dinding. Pukul 00.01 WIB. Selamat Ulang Tahun, Khanza Sayyidina!

Aku mengambil selembar kertas binder, masih dengan karakter kesukaanku, Snow White. Aku menulis surat. Setelah selesai, aku melipatnya, memasukkannya ke dalam amplop, lalu kuletakkan ke dalam kotak bersama surat-surat lain di laci meja belajarku. Lalu aku beranjak tidur.

Assalamualaikum, Ayah. Ayah, hari ini Khanza berulang tahun yang ke-10. Khanza sudah besar kan, Ayah? Ini surat Khanza yang ke-5 setelah kepergian ayah. Khanza tidak tahu setelah ini, apakah Khanza akan menulis surat lagi atau tidak. Tapi Ayah, insya Allah, Khanza tidak akan pernah lupa pada janji-janji Khanza untuk selalu menjadi anak yang baik dan selalu menyayangi bunda. Khanza janji, Khanza akan selalu bersemangat dalam menjalani hari-hari Khanza agar suatu saat Khanza bisa menggapai semua cita-cita Khanza.

Tidur yang tenang, Ayah. Khanza dan Bunda akan selalu menyayangi Ayah, dan Ayah akan selalu ada di hati kami.

Love,
Khanza

🌸🌸🌸


Dedicated to my father who passed away four years ago. Rest in peace, Dad. May Allah grant you a place in jannah, aamiin. Miss you a lot, Dad. We love you, and you’ll always be alive in our heart.

And Happy Mother’s Day to my mom. Thank you for always being there for me, your childish and stubborn girl. May Allah always bless you, aamiin. I love you more than the words I can describe. Selamat Hari Ibu, Bunda!

P.S. Cerpen ini pernah saya post di sini, blog saya yang lain yang saya buat rencananya khusus untuk fiksi. Tapi sampai sekarang baru 2 cerpen yang saya post. 😦

Posted in Fiction

Fiction: Camera

image

Sayang, tak usah kau hiraukan apa yang mereka katakan. Bagiku kau nyata, kau abadi. Aku bisa menatap matamu, menikmati senyum dan tawamu, menyentuh kulitmu, menggenggam tanganmu, dan memelukmu. Kau nyata bagiku, bahkan lebih nyata daripada keberadaanku yang mungkin akan lenyap jika kau tak lagi menjelma.

Aku menatap kamera di tanganku. Aku tersenyum. Ini kameramu. Kamera kesayanganmu yang kau berikan pada hari itu. Hari saat kau pergi dan orang-orang tak percaya saat kemudian kubilang kau telah kembali.

Aku senang kau memberikan kamera ini, Sayang. Kau tahu aku tak pernah ingin jauh dari kameramu ini. Karena hanya dengan kamera ini aku bisa bertemu denganmu. Saat aku kesepian sendirian di bangku taman, aku akan memotret dan kau muncul setelah kilatan kamera dan kau akan mengajakku berdansa. Saat aku kehilangan selera makan, aku akan memotret, lalu kau muncul dan menyuapiku. Ya, kapanpun aku merindukanmu aku hanya tinggal memotret dan kau akan muncul. Seperti malam ini, aku tidak bisa tidur. Aku memotret dinding kamar, dan kau muncul, Sayang. Kau menyenandungkan lullaby untukku dan membelai rambutku hingga aku tertidur.
***

“Ainsley… Ainsley… Turunlah! Ayo sarapan.” Pagi itu kudengar suara ibu memanggilku dari lantai bawah. Kemudian kudengar ia bercengkerama dengan ayah.

Aku menunggu. Sampai tak kudengar suara mereka lagi aku turun dengan membawa kamera. Kulihat sepotong bridie dan secangkir teh hangat telah tersaji di meja makan, ibu pasti telah menyiapkannya untukku. Aku melewatkannya, sama sekali tidak berselera makan, lalu aku keluar menuju taman di samping rumah. Aku terus berjalan ke arah danau.

Suasana di sekitar danau sangat tenang. Kau tahu aku selalu menyukai tempat ini kan, Sayang? Kau pun sangat menyukainya. Ah, aku merindukanmu. Aku memotret ke arah danau, dan kau pun muncul. Kau tersenyum. Aku menyentuh tanganmu, kita bergenggaman tangan, dan kau memelukku. Kau begitu nyata, Sayang. Bagaimana bisa mereka menertawaiku?

Aku hanya ingin membunuh detik yang berjalan saat aku bersamamu. Suara air danau dan gesekan dedaunan melantunkan melodi yang hanya kita saja yang bisa mendengarkannya. Aku masih berada di pelukanmu, merasakan debar jantungmu, saat tiba-tiba kurasakan seseorang menyentak tanganku.

“Ainsley! Apa yang sedang kau lakukan?” Ibu dan ayah kini sudah berada di dekatku. Dan kau sudah tak tampak.
“Laird, kau di mana?” Aku memutar pandanganku ke sekeliling mencarimu.
“Ainsley sayang, sadarlah. Laird sudah meninggal.” Ibu melihatku iba. Aku benci tatapan itu.
“Tidak, Ibu! Dia belum meninggal!’ Sergahku.
“Ainsley, tunanganmu itu mengalami kecelakaan saat pendakiannya ke Ben Nevis. Kau ingat itu kan, Sayang?” Ayah mencoba meyakinkan aku.
“Aku ingat, Ayah. Tapi dia sudah kembali.”
“Tidak, Ainsley. Kau hanya berhalusinasi.” Sahut ibu.
“Aku tidak berhalusinasi ibu!” Air mataku mulai jatuh.
“Sudahlah, Ainsley. Kau harus melupakannya. Kau juga harus melupakan kamera ini, kamera ini membuatmu terus berhalusinasi.” Ayah merampas kamera dari tanganku.
“Tidak, Ayah! Kembalikan padaku!”
Ayah tidak menghiraukan aku, dia lalu membuang kameraku ke danau.
“Ayah!!!” Jeritku.”Kenapa kau lakukan itu?!” Aku terisak.
“Sudahlah, Sayang. Jangan seperti ini terus, kau harus memulai hidup baru.” Ibu memelukku. Tapi aku melepaskan pelukannya dengan kasar.
“Ayo kita pulang, Ainsley.” Ibu menarik lenganku.
“Tidak, aku tidak mau!” Aku meronta melepaskan tanganku.

Ibu masih ingin memaksaku, tapi kemudian ayah meminta ibu untuk membiarkan aku di sini. Mungkin agar aku tidak semakin ganas melawan mereka.

Sepeninggal mereka, tangisanku semakin menderas, aku terisak sejadi-jadinya. Aku terduduk di atas rerumputan. Kedua lenganku memeluk lutut. Aku merasakan hangatnya air mataku yang terus mengalir.

“Sayang, aku menemukan kameranya.” Sebuah suara menghentikan tangisanku. Itu suaramu.
Aku menengadah. Benar, itu kau.
“Itu kau kan, Sayang? Laird?” Aku mencoba meyakinkan penglihatanku.
Kau hanya tersenyum, dan berjalan ke arahku. Kau lalu meraih tanganku. Dan aku kembali terisak menjatuhkan kepalaku ke dadamu. Kau memelukku erat. Aku merasakan kehangatan tubuhmu walaupun kau basah kuyup. Kau pasti habis mengambil kamera itu dari danau kan, Sayang? Aku hanya tersenyum geli.

Lihatlah, kau begitu nyata. Aku ingin memanggil ayah dan ibu. Agar mereka melihatmu, dan yakin bahwa kau benar-benar ada. Tapi sudahlah, mereka semua tidak akan pernah mau mengakui keberadaanmu. Dan itu tidak penting bagiku. Yang terpenting bagiku adalah kau selalu ada di sisiku.

Bagiku kau nyata. Kau abadi.
***

Tulisan ini diikutsertakan dalam #NulisBarengAlumni @KampusFiksi dengan tema “Kamera”.

My other fictions:
https://ichasyahfa.wordpress.com/2015/04/30/fiction-perfection/
https://ichasyahfa.wordpress.com/2015/02/22/fiction-the-sweetest-escape/

Posted in Fiction

Fiction: Perfection

They said I was perfect…

I got everything that everyone wanted in life. I possessed all things that everyone would envy for. They said I was the luckiest girl.

Was that so?

I got threatened for having beautiful face. I got threatened for having slim body. I got threatened because I was born in such a rich family. I got threatened because I always got A’s and achievements at school. Was I lucky?! I ASKED YOU!

I had tried to survive, but my imagination of death was such a temptation.

They…

I wanted to ignore my thought, yet I couldn’t help recalling what they did to me. The words, the punches, the slaps, the wicked laughs. Human could be more frightening than devils.

I inhaled… My blood… Once… Twice… repeatedly. I got used to it! I loved my scars. They gave me such a tranquility.

I got closer to the death, should’ve found my heaven… If only that boy didn’t save me.

“You are an angel. You don’t deserve these all…” He said.

I stared at him blankly.

“I don’t have the incredible strength, but I’ll do my hardest to always save you.” His deep stare.

I laughed as I heard his last sentence. But then my laughter turned into tears. For the first time I felt safe.

***

She was so beautiful. Her appearance and the way she behaved. Not to mention how smart she was. She was the definition of perfection.

But, being too good wasn’t always good. It could give you the negative impact. Envious. She got bullied by those who envy her, the girls who had always wanted to be her. And worse, she also got bullied by the boys who failed to attract her.

They managed to hide the bullying, their actions had never got caught by the teachers and school staff. And I didn’t know why she never told her parents.

I had always wanted to save her. But, who was I? I was just a nerd who doesn’t know how to act nor say, who had no gut to do something to stop the violence.

I decided to watch her in silence…

I watched her suffering to regain her strength, I watched her tears, and I watched how she endured her pain. I felt like a coward, I hated myself. I was a coward, indeed.

One day, I saw her sitting at the park alone. She sliced her finger. Blood… She inhaled and closed her eyes. It seemed she found her calmness by doing that. Another day, she did it again. Another day.. Another day…

Until that day. I watched her crying. I wanted to wipe her tears, but here I was, hid behind a tree. She looked at her wrist, and her other hand held a knife. I stood still. And she tried to cut her artery. I knew I shouldn’t hide anymore. I didn’t want to lose her…

“DON’T!”‘ I yelled at her.

She looked puzzled, shocked by my presence. But, seconds later she decided not to care, she continued trying to cut her artery. I grabbed her hands and threw away the knife.

“Don’t die!”

“Who are you?!” I felt her anger.

I lifted her face.

“You are an angel. You don’t deserve these all…”

Her blank stare.

“I don’t have the incredible strength. But I’ll try my hardest to always save you.” I looked deep into her eyes.

She laughed. And then cried. I wrapped her in my arms. I would keep my promise to always save her from now on. I loved this girl.

***

It was our wedding anniversary. We had been married for 25 years. We had children. We had never got so much troubles in our marriage. He could handle me at my worst. He loved me so much. Was I happy?

He was the man who had spent his life for me. He was the one who saved me from the death that I always wanted. He was the one who cared about my pain, when no one else did, not even my parents who were very busy with their own business.

I should’ve loved him…

But my heart was fed up with the word love. I got traumatized. I had always thought that love never existed. Although he showed it. Although I always felt safe with him. But I… I didn’t love him. And it brought me to the deepest guilt. My sinful self…

He offered to cook for our lunch today. While I was in our bedroom, alone. Tears streamed down my face.

“You’re wicked…” The strange voice.

I felt exhausted.

I looked at the table. There was a plate with apples in it, and the knife next to it.

The strange voice came again. And other voice, and other voice… The voices owned my ears, destroyed my head. I couldn’t breathe. I reached the knife.
I didn’t know what was going on, but I could smell my blood.

I inhaled… Harsh…

“Honey, lunch is ready!” His voice.

I could still hear the sound of the door opened, before it was all dark…

***

It is a pure fiction, not associated with any true bullying story. I want to say through my writing that my hope is there won’t be bullying stories anymore. Bullying can affect people physically and mentally, give such a trauma for their whole life time. Say no to bullying!

In response to Writing 101: Day Nine – Point of View.
image

It is a bit out of the twist. My fiction is only from two different PoV, not three. But I hope it’s still worth a read. I just started learning to write. 🙂

Posted in Fiction

Fiction: The Sweetest Escape

Image Credit: http://www.rozite.info

Dia adalah matahari yang kehangatannya selalu dicintai orang, dan aku adalah sang rembulan yang indah, yang selalu dipuja, yang sering dijadikan perumpamaan keindahan dalam puisi. Aku selalu memantulkan sinarnya. Tapi satu hal yang pasti, kami tak bisa bersatu. Dia seorang fotografer. Cukup terkenal dan karirnya sangat cemerlang. Tapi tetap saja orang tuaku tidak akan menyetujui hubungan kami, terutama karena nama besar ayah.

Kami- setidaknya aku- sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Dia akhirnya menyetujui tetapi dia meminta satu hari agar bisa bertemu denganku untuk yang terakhir kalinya. Dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah Artificial Intelligence di rumah seorang teman, dan dengan segala daya upaya akhirnya aku bisa lolos dari para pengawalku. Dan aku menemuinya.

Di tempat ini, dia memilih untuk mengadakan pesta farewell kami. Ini hutan. Atau sepertinya kawasan pinggiran hutan, karena dia masih bisa mengendarai mobilnya- membawaku yang tertidur pulas sepanjang perjalanan- masuk ke sini. Aku memandang ke sekeliling. Pepohonan besar seperti deretan payung-payung hijau yang tak terputus. Aku menoleh ke arah utara. Jauh di seberang, terpisahkan oleh jurang curam, berderet pohon-pohon pinus tinggi. Indah sekali. Kami benar-benar memiliki quality time saat itu. Kuturuti keinginnanya untuk menjadikanku modelnya. We talked a lot, we sang, we shared laughter.

Sejam kemudian. Kami duduk berdampingan, menghadap lukisan alam yang terbentang di depan kami. Aku bersandar di bahunya.

“Kalau aku boleh memilih, aku akan memilih untuk tidak jatuh cinta padamu, anak tunggal seorang Wiatmaja Hardi.” Dia bergumam. Pandangannya lurus ke depan.

Aku memilih untuk tak menjawab. Aku juga tak tahu harus menjawab apa. Lagipula itu bukan pertanyaan kan? Aku hanya memandangi wajahnya. Dia sangat tampan. Tidak heran para model itu selalu mengaguminya.

Catra menoleh ke arahku, “Apa kamu benar-benar ingin meninggalkanku?”

Aku menunduk.

“Aku tidak ingin. Tapi aku harus.” Jawabku datar.

“Tapi kita…”

“Catra Niscala…” aku memotong kalimatnya. “Life is like binary concept, 1 or 0. There’s no in between. Aku tidak mau kita seperti ini terus. Aku tidak mau membuatmu terus terluka. Pengawal-pengawal menyebalkan itu dan semua orang akan terus berusaha menjauhkanmu dariku.” Aku menghela napas. “Aku harus memilih dan aku sudah memilih.”

“Memilih meninggalkanku?” Dia tersenyum pahit.

Aku mengangguk tanpa melihat matanya. Aku lalu membenamkan wajahku ke dadanya. Untuk beberapa lama kami membisu. Membiarkan detak jantung kami saling bersahutan.

Catra mengangkat wajahku. “Kamu sangat cantik. Words aren’t enough to describe your beauty.” Catra menatapku lekat, mengunci mataku. Aku tersenyum. Aku sudah terbiasa dibilang cantik, tapi setiap kali Catra yang mengucapkan, maka akan selalu ada kembang api di dadaku.

“Seperti namamu, Chervena Roza, Mawar Merah…”

Ya, Chervena Roza berarti mawar mewah, diambil dari Bahasa Bulgaria. Aku diberi nama itu karena ibuku yang berdarah Bulgaria- dari pihak nenek – sangat menyukai bunga mawar merah.

“Seperti mawar merah, kecantikanmu sempurna dan kamu adalah lambang keindahan cinta yang selalu akan dikagumi.”

“Rayuan macam apa itu? Typical Indonesian!” Aku merengut.

Tawanya berderai. Dia mengacak rambutku. Kembang api di dadaku semakin banyak. Aku menikmati memandangi wajahnya. Tuhan, bolehkah aku meminta waktuku bersamanya lebih lama? Hanya dia yang bisa memberikan rasa ini, rasa yang tidak punya parameter untuk mengukurnya dan algoritma untuk memecahkan kerumitannya.

Keheningan yang damai yang seharusnya kami miliki lebih lama terusik oleh bunyi derap langkah yang sepertinya berasal dari banyak orang. Walaupun masih lamat terdengar aku segera tersadar.

“Itu pasti mereka! Mereka menemukan kita!” Napasku memburu, dipenuhi ketakutan dan kecemasan. Kami menoleh ke arah suara itu berasal.

“Sial! Kenapa mereka cepat sekali. Aku belum memulai apapun!” umpat Catra.

“Apa maksudmu?” keningku berkerut.

“Ikut denganku!” Catra menarik lenganku, mengajakku masuk ke dalam mobilnya.

“Tidak Catra, kita tidak bisa lari lagi!” cegahku.

“Aku tidak ingin mereka mengambilmu!” seru Catra.

Catra menarik lenganku lagi, kasar.

“Catra!” Aku membentaknya, “Aku sudah bilang, aku memilih untuk meninggalkanmu!” Aku mencoba menahan air mataku.

Kali ini Catra terdiam. Bersamaan dengan itu para pasukan itu sudah berada di dekat kami. Dan kini juga muncul dari arah dalam hutan. Kami dikepung. Ayah mengirim anggota kepolisian, tentara, bin, dan tidak lupa, para pengawalku yang memuakkan itu.

“Jangan bergerak!” Mereka mengarahkan senapan mereka ke arah Catra.

 “Aku mohon turunkan senjata kalian!” bentakku.

Beberapa saat saling pandang, akhirnya sang komandan memerintahkan anggotanya untuk menurunkan senjata mereka.

“Jangan sakiti dia. Aku akan meninggalkannya…” Air mataku menetes.

“Beri kami waktu sepuluh menit.” Ucapku pelan.

Aku membalikkan badan, menghadap Catra. Aku menjatuhkan kepalaku di bahunya. Catra membelai rambutku.

“Maaf…” Aku tak dapat menahan air mataku lagi. Bahuku berguncang, aku membenamkan kepalaku dalam pelukannya. Catra memelukku erat. Beberapa menit, dia semakin mengeratkan pelukannya, sebelum akhirnya kurasa pelukannya menyesakkan, membuatku susah bernapas. Dan aku merasa nyeri luar biasa, entah benda apa yang menyentuh rusuk kiriku, aku mendengar gemericik dari sana, bau darah menyeruak, dan napasku tersengal.

“Life is like binary concept, 1 or 0. Be mine or die. And you`ve chosen the second…” Catra mendesis di telingaku.

Aku tak sanggup menjawabnya, aku tak mampu berpikir lagi, napasku tercekat. Bersamaan dengan itu kudengar riuh suara di sekelilingku, dan suara tembakan. Aku tak tahu, otakku tak mampu memproses apapun lagi.

Seorang fotografer muda terkenal berinisial CN menunggu waktu untuk menjalani eksekusi mati setelah kasus penculikan dan pembunuhan berencana terhadap putri tunggal Presiden Wiatmaja Hardi, Almh. Chervena Roza Hardi, dan juga kejahatannya sebagai salah satu pengedar narkotika yang berhasil terungkap oleh pihak kepolisian.

Aku mematikan smartphone-ku dan mencabut baterainya, setelah membaca berita di salah satu situs surat kabar online. Aku tersenyum perih. Maaf, Sayang, aku tidak bisa menemanimu di hari-hari terakhirmu, tapi rasa cintaku akan tetap sama. Aku membenarkan letak beanie yang kupakai. Pesawatku akan segera berangkat.

In Response to Kampus Fiksi‘s Challenge.

Tema: Bunga & Eksekusi Mati

Syarat: Analogi & Metafora