Posted in Trip

One Fine Day At Ancol

image

Last week we went to Ancol. We arrived at the Beach Pool area at midday. There were a lot of people, yet not so crowded. Like other visitors, we rented the beach mat for us to sit on. The weather was so hot. I didn’t feel like to play on the beach nor swim (I can’t swim btw 😂). So, I was just sitting there watching people, let the wind blow my headscarf. Sometimes I reached the seashore to take pictures of my nephew and niece who were playing on the sand, making things from the sand using their beach toys.

The wind made me sleepy. I ate the snacks that we bought to keep my eyes open, lol. It was just relaxing. But then I felt annoyed. There were a stand up comedian (I forgot his name) and his team doing a video shooting there. I was annoyed because the cameraman directed the video camera toward the visitors. I had no idea whether it was for TV program or just for their personal documentation, but I didn’t want my face to get caught by the camera haha. So, I stepped away, distanced myself for a while. Fortunately, it wasn’t too long. They moved to another part of the beach. Such a relief, I could go back to my place.

Aftet a few hours, we decided to get out of the beach and then went to Columbus Cafe to have lunch. We walked on the boardwalk to reach the Columbus Cafe. I enjoyed walking on the boardwalk, and stopped at times to take pictures of the view. As we arrived, the waiter gave us the menu book. I had spaghetti and iced lemon tea. The spaghetti was not so special. At first I wanted to have fresh coconut water to drink instead of iced lemon tea, yet that day it wasn’t available as usual. We enjoyed the view there, though.

After lunch, we went to Pasar Seni, still at Ancol. On our way to parking lot, we saw some mature guys running and giggling while their eyes were on their phones. Apparently they were chasing Pokemon, lol. The sun was still shining, yet the weather was cool, unlike at midday.

It was so serene when we arrived at Pasar Seni. Apparently we were the only visitors who came. Not sure whether it was usually that quiet or it was because we went there in the late afternoon. There were some booths of artsy products made by talented artists at Pasar Seni. I love the atmosphere at Pasar Seni. It was very tranquil with the cool breeze and the roof-like high trees there. And no to forget the group of colorful umbrellas which were decorated on the trees. Beautiful!

We decided to go home after taking pictures at Pasar Seni. But on the way home, we stopped at Jl. Hidup Baru, Pademangan to have a dinner at a seafood street cafe. The review will be on the next post. Happy Friday, see ya! 😊

Address:

Ancol Dreamland (Taman Impian Jaya Ancol)
Jl. Lodan Timur No. 7, Ancol, Pademangan, RW.10, Ancol, Pademangan, North Jakarta, Jakarta Capital Region 14430 (Open 24 Hours)

Pasar Seni (Open 10am-8pm)

P.S.  if you have no vehicle when you are at Ancol, you can take the Wara-Wiri Bus. It will take you to the places at Ancol for free.

Advertisements
Posted in Trip

The National Monument

image

The National Monument (Monumen Nasional in Bahasa Indonesia or is popularly called Monas) is a 132m tower in Central Jakarta, the construction began in 1961 in President Soekarno (the first President of Indonesia) era. The top is shaped like a flame ( which is covered by gold foil), commemorating the struggle for the Independence of Indonesia.

image

image

Inside, at the base of building, you will see The Indonesian National History Museum. It has the display of dioramas about the history of Indonesia, with explanations in English and Bahasa Indonesia.

image

image

image

image

Next, you can go up to goblet (cawan) or reach the top yard by the elevator. Monas is always visited by loads of people, local and foreign tourists, on weekdays and weekends. And since there is only one elevator, you need to be prepared to be in a long queue. In the top yard, you can see the scenery of Jakarta surrounding Monas.

image

image

image

Monas is surrounded by the huge park. You will see a lot of people taking pictures here and there at the park. The Jakartans also doing sports or just relaxing here especially on the weekends.

image

image

image

Address:
Merdeka Square, Central Jakarta, Indonesia.

Reference: https://en.wikipedia.org/wiki/National_Monument_(Indonesia)

Posted in Trip

Bersantai di Hotel Seruni, Puncak

“The best way to pay for a lovely moment is to enjoy it.” -Richard Bach

So, last March my family and I went to Puncak, Bogor. Kami ke sana memang hanya ingin menginap di hotel menikmati udara sejuk Puncak saja, jadi memang tidak ada rencana ke tempat wisata tertentu. Paling hanya ke kebun teh saja kalau memungkinkan. Setelah melihat review penginapan-penginapan yang ada di Puncak, kami pun memilih Seruni Hotels di Cisarua. There were good and bad reviews, but most of those reviews seemed to agree that Seruni Hotels offer the awesome mountain view.

image

Kami cukup lega jalan menuju Puncak hari itu lumayan lancar karena memang kami pergi tidak di saat weekend. Setelah sampai di Puncak, aku sempat heran saat mobil berbelok ke jalan kecil, dan ternyata kakakku bilang itu memang jalan menuju Seruni Hotels. Tapi memang jalannya kecil banget, hanya bisa dilewati satu mobil atau maksimal dua tapi tentu sangat sulit kalau kau ingin menyalip. Dan jika ada dua mobil berpapasan, dari arah berlawanan, mobil yang satunya harus memelankan laju kendaraan agar mobil yang satu bisa lewat terlebih dahulu. Kanan kiri jalan banyak pepohonon dan semak belukar dan terkadang ada rumah penduduk.

Setelah melewati jalan kecil yang berbelok-belok itu kami pun sampai di Seruni Hotels. Seruni hotels terdiri dari Hotel Seruni Pangrango (Seruni I), Hotel Seruni Gunung Gede (Seruni II), dan Hotel Seruni Gunung Salak (Seruni III) yang ketiganya masih dalam satu kawasan. Arsitekturnya cukup megah dan masing-masing hotel memiliki fasilitas kolam renang, namun pengunjung bebas bermain di kolam renang mana saja. Kami menginap di Hotel Seruni II yang berada di antara Hotel Seruni I dan Hotel Seruni III. Kami sudah memesan dua kamar menghadap view. Oh ya, jangan lupa bilang yang view saat booking, karena di sini juga ada kamar-kamar yang tidak menghadap pemandangan pegunungan Puncak.

image

image

image

Setelah check-in kami pun beristirahat. Pelayanan dan fasilitas hotel cukup baik. Desain interior-nya memadukan beberapa unsur budaya. Kau akan melihat banyak patung dan lukisan. Walaupun bernuansa klasik, di beberapa bagian juga terlihat sentuhan modern minimalis. Well, lupakan tentang interior-nya, karena view di sini benar-benar memanjakan mata. Berdiri di balkon menikmati pemandangan hijau dan udara yang sejuk. Lovely!

image

image

image

Sorenya kami ke Beach Pool, kolam renang Hotel Seruni III. Kolam renang yang diberi pasir di tepinya sehingga tampak seperti pantai kecil buatan. Dan di dekat pool ada taman yang dilengkapi dengan arena permainan anak-anak. Aku seperti biasa kalau pergi bersama keluarga pasti selalu diminta jadi fotografer- okay, maksudku tukang foto- yang memotret mereka berbagai pose. Selagi yang lain masih asyik main air, aku yang memang lagi kurang enak badan memilih selonjoran di kursi di dekat kolam renang sambil dengerin lagu pake earphones. Sambil menengadah, I watched the dragonflies flying with the sky background, bikin mataku kriyep-kriyep. Untung saja aku gak ketiduran.

image

image

image

image

image

Malamnya aku cuma melungker di balik selimut karena flu. Tapi sebelumnya aku menyempatkan duduk-duduk di balkon karena view-nya juga bagus banget di malam hari. Kerlap-kerlip lampu dari rumah penduduk yang dilatari siluet pegunungan itu terlihat cantik. Maksudnya aku ingin tidur cepat karena kepalaku pusing, tapi sampai lewat tengah malam aku malah gak bisa tidur. Ah, menyebalkan.

Besok paginya setelah sarapan di restaurant hotel, keluargaku ke kolam renang Hotel Seruni II, sepertinya keponakanku masih ingin bermain air. Aku sendiri memilih ke rooftop restaurant dan melihat-lihat pemandangan. Pagi yang berkabut. Tapi tetap tidak mengurangi keindahan hamparan hijau yang disertai sinar keemasan matahari pagi. Tidak lama kemudian kami bersiap-siap untuk check out.

image

image

Pulangnya seperti rencana awal kami sempatkan ke perkebunan teh. Kami menuju ke Agrowisata Gunung Mas. Seharusnya perjalanan bisa lebih cepat kalau saja jalan tidak macet. Sepertinya ada kecelakaan. Ternyata di depan ada truk minyak sedikit terperosok ke tepi jalan. Kami tidak terlalu jelas seperti apa kejadiannya. Setelah melewati lokasi truk tersebut jalan kembali lancar.

image

image

Gerimis mulai turun, dan begitu sampai di Agrowisata Gunung Mas pun masih gerimis. Karena sudah sampai, ya sudah kami memutuskan untuk masuk. Tarif masuknya Rp. 15.000/orang. Kebun tehnya bagus dan tertata rapi. Maksud hati ingin melakukan tea walk atau melihat pabrik pembuatan teh. Tapi gerimis mulai menderas sehingga kami mengurungkan niat kami. Lagipula kami juga tidak mau kesorean di jalan kalau menunggu hujan yang tidak dapat diprediksi kapan berhentinya. Akhirnya kami cuma turun untuk berfoto sebentar. Kami pun langsung naik ke mobil lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta diiringi hujan yang semakin deras. Ah, next time aku harus kembali lagi ke sini untuk tea walk, pikirku.

Alamat Seruni Hotels:
Jl. Raya Pirus, Kp. Baru Tegal Cibeureum Cisarua : Bogor, Jawa Barat, Indonesia

Alamat Agrowisata Gunung Mas:
Jl. Raya Puncak, KM. 87, Cisarua, Bogor, Jawa Barat

Posted in Trip

Trip to Bandung

Sebenarnya perginya ini udah beberapa bulan lalu sih tapi gak papa deh baru nulis sekarang berhubung saya baru mulai aktif ngeblog lagi setelah berbulan-bulan meninggalkan blog saya, hehe. 😁

Kami berangkat dari rumah kakak saya di Jakarta sekitar pukul delapan pagi. Lumayan lama di jalan, badan pun jadi agak pegal di mobil, haha. Tiba di Bandung bertepatan dengan waktu shalat dzuhur, jadilah kami berhenti sebentar di sebuah masjid untuk shalat dzuhur dan beristirahat sebentar.

image

Setelah itu kami mau melanjutkan perjalanan lagi, tapi masih belum menentukan mau kemana soalnya niat kami pergi memang cuma mau jalan-jalan keliling kota Bandung saja. Kami lalu memutuskan untuk ke ITB (Institut Teknologi Bandung) saja. Sebelum ke ITB kami cari rumah makan dulu untuk makan siang. Setelah itu baru kami melanjutkan perjalanan ke ITB dan tentunya kami cuma di kawasan luarnya saja, di dekat Taman Ganesha. Suasana di Jl. Ganesha terlihat sangat asri dan sejuk dengan adanya pepohonan yang rindang. Akhirnya kami di sana cuma makan-makan jajanan yang dijual di sana dan foto-foto di depan Taman Ganesha, dan keponakan saya di sana naik delman. Tidak terasa sudah masuk waktu ashar. Kami lalu shalat ashar di Masjid Salman ITB. Masjidnya cukup luas, bersih, dan tertata. Selain shalat, di masjid itu juga terlihat banyak mahasiswa yang belajar kelompok hingga pengajian. Tidak heran para mahasiswa betah berlama-lama di masjid dengan suasana yang nyaman seperti itu. Selesai shalat Ashar kami pun melanjutkan perjalanan lagi.

image

Saat kami melewati Jl. Braga (dekat Jl. Asia Afrika) terlihat banyak masyarakat Bandung yang menikmati berjalan kaki di sore yang cerah itu. Saya pengen turun karena dari mobil saya melihat banyak view bagus di sana yang bisa dijadikan objek foto ataupun background untuk berfoto, tapi berhubung anak kakak saya yang masih bayi sudah ingin benar-benar beristirahat, mungkin karena sudah capek seharian jalan, akhirnya kami memutuskan untuk check in hotel dulu untuk beristirahat baru malamnya ke Jl. Braga lagi. Saya sempat mengambil beberapa foto di sana dari dalam mobil.

image

Setelah beristirahat di hotel (kami menginap di Kedaton Hotel), selepas Isya kami ke kawasan Jl. Braga lagi. Di malam hari kawasan ini sangat ramai, lebih ramai dari tadi sore, apalagi saat itu malam Minggu. Saya sendiri malah kehilangan mood saya untuk berjalan-jalan di sana, tidak tahu kenapa mungkin karena memang tadinya saya ingin mengambil foto-foto di sana pada saat hari masih terang. Tapi karena sudah terlanjur ke sana ya sudah kami berjalan-jalan sebentar. Ternyata di Jl. Asia Afrika sedang ada Car Free Night dan di depan Museum Konferensi Asia Afrika ada band musik- sepertinya band lokal- yang sedang perform. Hanya sebentar di sana, kami lalu makan malam di sebuah cafe di Jl. Braga dan setelah itu langsung kembali ke hotel.

image

image

Besok paginya setelah bersiap-siap kami pun check out dan tujuan kami hari itu adalah ke Rumah Stroberi. Tapi sebelum ke sana, kami sempatkan dulu ke icon Kota Bandung, Gedung Sate. Minggu pagi itu terlihat sangat ramai dengan pengunjung yang ingin di depan Gedung Sate. Di lapangan Gasibu, di depan Gedung Sate, juga terlihat dipenuhi oleh masyarakat Bandung. Ada yang olahraga, ada yang cuma nongkrong, dan banyak juga yang foto-foto tentunya. Seperti di ITB, di sekitar Gedung Sate juga banyak delman yang tentu saja menarik perhatian anak-anak kecil.

image

image

image

Setelah sekitar satu jam di sana kami melanjutkan perjalan ke Rumah Stroberi. Kami sampai di Rumah Stroberi sudah menjelang siang. Beruntung kami masih bisa mendaftar untuk masuk ke Kebun Stroberinya, karena sepertinya jumlah pengunjung untuk masuk ke Kebun stroberinya hari itu dibatasi. Mungkin karena buah stroberinya yang ranum di kebun sudah tinggal sedikit berhubung banyaknya pengunjung yang datang hari itu. Kebun Stroberinya kalau saya tidak salah ingat ada empat tingkat lahan. Hurray! Saya memang paling suka kalau berada di perkebunan stroberi. Walaupun stroberinya sudah tidak terlalu lebat lagi, karena seperti yang saya bilang tadi pengunjungnya sangat ramai hari itu.

image

image

Puas memetik buah stroberi kami pun menyerahkan stroberi-stroberi yang sudah kami petik untuk ditimbang oleh petugas, lalu dibayar untuk dibawa pulang. Selain kebun stroberi, di Rumah Stroberi ini juga terdapat beberapa cafe, gazebo-gazebo kecil, penginapan hingga arena permainan alam. Kami memilih makan di cafe di dekat kami memarkirkan mobil dan memesan menu lesehan yang disediakan di sana. Di dinding cafe terpajang foto-foto selebritis yang pernah mengunjungi Rumah Stroberi. Selesai makan dan shalat dzuhur di mushala yang disediakan di sana, ingin rasanya saya bermain di arena permainan alam. Sayang kami tidak bisa berlama-lama di situ karena harus segera kembali ke Jakarta untuk menghindari macet saat tiba di ibukota. See ya, Bandung! 🙂

Posted in Trip

North Sumatra: Sekilas Tentang Kampung Nelayan Belawan

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang Kampung Nelayan, Medan-Belawan, Sumatera Utara. Untuk menuju pemukiman penduduk Kampung Nelayan yang berada di seberang lautan, kita dapat menumpangi perahu bermotor sederhana yang banyak tertambat di sepanjang dermaga. Perahu-perahu bermotor itu sepertinya memiliki giliran pemberangkatan yang telah disepakati. Jadi saat kita berjalan di dermaga kita sudah langsung ditawarkan dan ditunjukkan perahu mana yang akan berangkat. Di dalam perahu kita dapat bertemu dengan penumpang-penumpang lain yang juga ingin menyeberang menuju pemukiman penduduk. Di perkampungan nelayan tersebut ada beberapa tangkahan. Para penumpang akan diturunkan sesuai dengan tangkahan yang mereka tuju.

Kampung Nelayan
The combination of sea and sky never fails to amaze me.

Di sepanjang perjalanan di dalam perahu kita dapat menikmati pemandangan laut, perumahan penduduk yang sudah tampak dari jauh, dan juga hutan bakau yang tampak si satu sisi. Kita dapat berpapasan dengan perahu-perahu lain yang akan berangkat ke dermaga untuk membawa penumpang ke luar perkampungan, atau nelayan pencari ikan yang menggunakan perahu-perahu kecil. Bagi yang hobi fotografi, pemandangan yang tersaji selama berada di perahu sangat menarik untuk dijadikan objek foto, apalagi didukung dengan pemandangan langit yang membentang di atas lautan.

Kampung Nelayan
Perumahan penduduk Kampung Nelayan.

Sesampai di perkampungan, kita akan disuguhi pemandangan rumah-rumah terapung yang terbuat dari papan, dan tonggak-tonggak kayu di bawahnya sebagai pondasi. Jalan yang kita lewati pun semuanya terbuat dari papan dan potongan-potongan kayu yang disusun. Kita harus berhati-hati selama berjalan, karena bisa saja ada jalan yang agak rusak dan kayunya sudah agak lapuk. Kadang-kadang, selama kita berjalan, jika kita berpapasan dengan anak-anak kecil yang berlarian, maka jalan yang kita lewati akan terasa bergoyang, hehe.

Seperti namanya, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah nelayan. Dan banyak ibu rumah tangga yang membantu suaminya mencari nafkah dengan menjual udang yang biasanya mereka jemur di teras rumah mereka. Tidak jarang juga ada anak-anak kecil yang menawarkan kepiting-kepiting hasil tangkapan mereka, untuk dijual tentunya. Dan warung-warung sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari banyak juga ditemukan di perkampungan ini. Tetapi untuk belanja yang besar atau barang-barang lain yang tidak ditemukan di sana tentu saja mereka harus pergi ke luar perkampungan.

Di Kampung Nelayan ini juga ada dibangun sekolah, tempat ibadah seperti masjid, dan ada juga pemakaman. Hal yang membuat tidak nyaman di perkampungan ini menurut saya adalah sanitasi yang kurang memadai. Penduduk masih agak sulit mendapatkan air bersih, penggunaan jamban yang pada umumnya pembuangannya langsung ke laut, sampai ke masalah sampah yang dapat terlihat di mana-mana. Setidaknya, itu yang saya lihat saat saya ke sana di tahun 2013. Saya tidak terlalu tahu, apakah saat ini sudah ada perubahan atau belum.

Menurut saya, Kampung Nelayan ini memiliki potensi sebagai salah satu objek wisata. Paling tidak, sebagai objek wisata bahari dan sejarah. Karena memang kota Belawan memiliki catatan sejarah yang merupakan bagian dari sejarah Sumatera Utara. Namun, mewujudkan desa yang ideal juga bukan perkara yang mudah. Harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan kesadaran masyarakat juga. Sekali lagi, ini hanya pendapat dan pemikiran saya, karena tentunya pelaksanaannya untuk menuju perubahan itu tidak semudah saya menulis tulisan ini.

Kampung Nelayan
Peaceful…

Kampung Nelayan

Kampung Nelayan
Gloomy yet beautiful.